Silaturrahim
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya: Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. — Surat Al-Hasyr Ayat 22
Silaturahim dibentuk dari dua kata yaitu shilah yang artinya menyambung dan Rahim, sifat Allah yang maha penyayang. Silaturahim bermakna menyambung sifat Allah yang Maha Penyayang.
Silaturahim bukan hanya bertemunya dua tiga orang sahabat, lalu ngobrol, apalagi-maaf-saling menonjolkan prestasi dunia. Apabila itu yang terjadi, sifat Rahim Alla akan terhenti pada setiap dua tiga orang itu. Tali Rahim Allah belum terjalin. Atau memakai idiom air belum mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Dimanakah tempat yang lebih rendah itu ? Terletak pada kondisi hidup sahabat atau orang yang memerlukan pembebasan dari jilatan api persoalan atau penderitaan. Term atas-bawah ini bukan demi kesombongan egois-hirarkis, melainkan pertanggung jawaban kepada sikap rendah hati: dialektika-manajerial sebagai Khalifah harus diperankan.
Bukan demi sikap jumawa kita tengah berada "di atas" dan otomatis yang dibantu berada "di bawah". Tidak untuk menjadikan anak yatim sebagai pelengkap penderita ditengah acara santunan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Tidak pula merasa kaya lalu memandang yang lain miskin. Bukan terutama untuk memilah ada pihak yang dianugerahi hidayah, sedangkan yang diseberang adalah pihak yang dikurung dlolalah.
Lubuk silaturahmi adalah innalillahi wainna ilaihi rojiun. Tujuan ibadah silaturahim mutlak kepada Allah. Wa ila rabbika farghob. Shohibu baity setiap pelaku silaturahim, penyambung tali sifat rahim adalah Allah. Adapun arah silaturahim adalah kepada manusia.
Allah tidak membutuhkan keimanan manusia. Mau beriman silahkan, mau kufur ya silahkan. Allah bukan pihak yang akan memperoleh keuntungan atau mendapat kerugian atas apapun yang terjadi di jagat raya. Namun alam semesta dan kehidupan tetap diurusNya. Allah mengalir ke bawah menyapa makhluk dan hambanya, merawat dan menjaga keseimbangan alam.
Demikian pula pelaku silaturahim berakhlak mengalir ke bawah menyapa dan mengayomi saudara-saudara yang sedang susah merana. Pelaku silaturahim menyedekahkan buah rahim yang diterima dari Allah kepada orang lain. Bentuk dan ungkapannya bermacam-macam : sedekah harta, sedekah ilmu, sedekah perlindungan, sedekah pengayoman, sedekah pencerahan, sedekah cahaya dan lain lain. Sesuai yang dibutuhkan keadaan atau sesuai perintah (amr) Allah kepadanya. Semua yang disedekahkan itu tidak disadari berasal dari dirinya, melainkan berkat limpahan Rahman-Rahim Allah.
Pada konteks dan posisi itu, pelaku silaturahim tidak besar kepala, karena mitra dialog yang sejati tetaplah Allah. Ia adalah tajalli Allah dan memerankan sifat rahim-Nya.
Yang tengah dilanda kesusahan yang berada pada puncak ketidaktahuan jalan keluar yang harus ditempuhnya. Baginya solusi adalah makhluk gaib. Ia terhimpit tembok persoalan atau penderitaan. Buntu. Tidak bisa mikir. Yang ia sadari satu-satunya penolong adalah Allah. Apa kata gusti Allah. Allah tidak tidur. Tapi bagaimana Allah akan menolongnya ? jawabannyapun masih gaib.
Ketika sesorang benar-benar buntu dan solusi adalah makhluk gaib, ketika pertolongan Allah sangat-sangat didamba- Allah bertajalli melalui sifat Rahim-Nya kepada pelaku silaturahim yang mengulurkan bantuan kepada yang terhimpit tembok. Melalui pelaku silaturahim Allah menjawab doa keyakinan seseorang. Ungkapan Allah tidak tidur menjadi nyata. Sifat Allah bertajalli dan bermusyahadah. Bagi orang yang buntu, kini sifat rahim Allah sudah tidak gaib lagi. Dalam hati ia berguma: "Allah memang tidak tidur. dan menjawab doa-doaku".
Yang gaib menjadi syahadah melalui sentuhan Rahim. Allah Maha mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha pengasih dan penyayang. "Alimul ghoibi wasy-syahadah. Huwa al-rahman al-rahim". Peran khalifah dibumi adalah men-syahadah-kan, menampakkan, menyatakan sifat-sifat rububiyah Allah.
Komentar
Posting Komentar