Ibnu Arabi
Wahdatul wujud. Wujud dan maujud itu adalah dua keping dari sisi mata uang yang sama. Itu bedanya antra haq dan halq. Kalau Allah dilihat dalam dirinya sendiri maka dialah al haq satu dan segalanya, tapi kalau dilihat dari sisi manifestasinya/penampakkannya/tajallinya Allah maka dia banyak. Alam semesta ini adalah penampakannya dari Allah. Itulah wahdatul wujud.
Analoginya biasanya pakai cermin, misalnya seseorang dikelilingi kaca maka terlihat gambarnya dipermukaan kaca dan wujud yang sejati adalah seseorang yang ditengah tadi. Jika seseorang itu mengangkat tangan makan gambaran dikaca juga akan ikut mengangkat tangan. Alam semesta ini adalah seperti gambar-gambar dipermukaan kaca dan wujud yang sejati adalah Allah sendiri. Dan yang dianggap paling mendekati gambaran Allah adalah manusia.
Semua alam semesta ini adalah manifestasi dari Allah. Jika ada kejahatan, itu muncul ketika manifestasi tadi tidak tampak (terhijab), tidak sesuai proporsi adanya. Contohnya berhubungan suami istri itu indah pada proporsinya, tetapi menjadi keburukan jika tidak sesuai proporsinya.
Ana al haq tapi tidak bisa dibalik menjadi al haq huwa ana. Ana al haq artinya aku adalah bagian terkecil dari tuhan. Islam datang meluruskan semuanya, tidak seperti itu biarkan Allah yang sejati itu apa adanya, yang lain itu halq. Meskipun ada entitas ketuhanan didalam masing-masing itu dan posisikan setiap entitas ketuhanan sesuai porsi dan peranannya masing-masing, supaya Dia bisa menggambarkan dirinya bagaimana gambarnya tuhan. Dan manusia yang bisa memerankan dirinya secara pas bagaimana surrahnya tuhan itu nanti yang oleh ibnu arabi disebut Insan khamil.\
"Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya".
Bagaimana rentetan dari yang sejati sampai terlahir manifestasi sampai terlahir tajalli. Kata Ibnu arabi bagi dia manjadi 3 level :
1. Martabat Ahadiyah, wujud Tuhan merupakan zat yang mutlak, Allah apa adanya. Dia tidak seperti apapaun. Seperti apapun definisinya gambarannya sebutannya terhadap Allah, Dia tidak seperti itu. Akal kita terbatas tapi Allah tidak terbatas. Akal terbatas ruang dan waktu. Pada martabat ini sering diistilahkan al-Haq oleh ibnu Arabi, berada dalah keadaan murni, tidak sesudah, tidak sebelum, tidak terikat, tidak terpisah, tidak diatas, tidak dibawah, tidak mempunyai nama, tidak dinamai. Pada martabat ini al-Haq tidak dapat dikomunikasikan oleh siapapun dan tidak dapat diketahui. Dilevel ini satu-satunya jalan untuk memahami Tuhan adalah Teologi negatif. Selalu dinegasikan apapun temuannya apapun definisinya negasikan semua bahwa Tuhan tidak seperti itu.
2. Wahidiyah. Ketika Tuhan ingin memperkenanlkan dirinya pada manusia. Dia ingin dikenal maka Dia menciptakan makhluk, dan Dia menunjukkan dirinya Aku itu seperti ini. Aku itu penyayang, Aku itu adil, Aku itu pengasih. Level wahidiyah adalah level perbuatannya Allah. Dilevel ini mujarrad itu bermanifestasi melalui sifat dan asma-nya. Dengan manifestasi atau tajalli ini zat tersebut dinamakan Allah dengan sifat dan namanya yang maha sempurna. Akan tetapi sifat dan nama itu sendiri identik dengan zat.
3. Tajalli syuhudi. Pada martabat ini Allah betajalli melalui asma dan sifat-nya dalam kenyataan empiris atau alam kasat mata. Dengan kata lain melalui firma kun, maka entitas permanen secara aktual menjelma dalam berbagai citra atau bentuk alam semesta. Dengan demikian alam ini tidak lain adalah kumpulan fenomena empiris yang merupakan lokus atau mazhar tajalli al-haq.
Komentar
Posting Komentar